Jarak


Baca terlebih dahulu : Rumah

Dalam mimpi, aku berjalan lagi,

melewati lorong panjang yang tak berujung,

kakiku terus melangkah, jarak itu terasa jauh,

namun bukankah sebenarnya jarak itu tak pernah ada.


Sebab semua hanya ada di dalam khayalan kepala,

ruang yang kutempuh, sekadar bayangan di otak saja,

namun anehnya semua terasa begitu nyata,

seolah aku benar berjalan, benar merasakan jaraknya.


Aku melihat benda-benda di sekitarku,

warnanya jelas, bentuknya nyata,

padahal tak satu pun yang benar-benar ada,

hanya gambar gelap yang diciptakan oleh kepala.


Bahkan saat mataku terpejam rapat,

aku tetap bisa melihat dengan jelas,

sebab yang melihat bukanlah mata,

melainkan sesuatu yang lebih dalam, entah apa namanya.


Aku jadi teringat pelajaran di dunia nyata,

tentang dua partikel yang terpisah sangat jauh,

namun anehnya mereka tetap saling terhubung,

seakan jarak di antara mereka hanyalah ilusi belaka.


Mungkin begitu pula dengan mimpi,

ruang yang kulalui, rumah yang kudatangi,

semua tercipta tanpa jarak yang sesungguhnya,

sebab di alam pikiran, jarak hanyalah tafsiran.


Dan jika ruang itu sendiri hanyalah ilusi,

lalu bagaimana dengan mereka yang telah pergi?

Mungkin mereka tak sejauh yang kukira,

sebab di ruang tanpa jarak, semua bisa saling bertemu.


Ibu, jika benar begitu adanya,

maka pertemuan kita dalam mimpi bukanlah kebetulan,

melainkan sebuah kemungkinan yang nyata,

di suatu ruang, tanpa batas, tanpa jarak.

No comments

'
Theme images by suprun. Powered by Blogger.