Kita Tidak Harus Menjadi Pahlawan

Saat memainkan game Dragon Quest V, saya mengira karakter yang saya kendalikan nantinya akan menjadi pahlawan yang akan penyelamat dunia. 

Sampai akhirnya saya bertemu sebuah momen yang cukup pahit, sebuah armor legendaris yang cuma bisa pakai oleh "sang-terpilih" ternyata tidak bisa digunakan oleh karakter utama saya.

Gamenya ini di buat agar pemain merasakan momen yang terasa sangat personal. Tentang perjalanan seorang anak dan ayahnya, yang lalu anak tersebut tumbuh dewasa, menikah, lalu punya keluarga, bahkan dia sempat mengurus sebuah kerajaan. 

Tapi plottwistnya baru terlihat di akhir game, karena sosok "sang terpilih" yang sebenarnya justru anak kandung dari karakter yang selama ini kita mainkan. Karakter kita hanyalah karakter pendukung dari karakter utama.

Dari situ saya mikir, ternyata jadi sosok yang berdampak itu tidak harus selalu jadi orang yang berdiri paling depan, paling kuat atau yang paling pintar.

Konsep ini mirip banget sama tokoh Himmel di anime Frieren: Beyond Journey’s End. Walaupun dijuluki Pahlawan, Himmel itu sebenarnya gagal men-cabut pedang pahlawan legendaris. 

Tapi bukannya patah semangat, Himmel tetap melangkah maju dan memilih untuk bertarung habis-habisan demi menolong sesama. 

Ia bahkan menyelamatkan dunia bukan dengan senjata legendaris, melainkan dengan pedang imitasi biasa, dia membuktikan bahwa status "sang terpilih" tak pernah lebih penting dari niat tulusnya.

Maka bukankah di situ letak definisi "pahlawan" yang sesungguhnya?.

Kita sering terjebak dalam anggapan, kalau hidup baru berharga kalau kita jadi tokoh utamanya, harus jadi yang paling hebat, paling menonjol, atau yang paling kaya. 

Padahal, bisa jadi peran terbesar kita justru cuma jadi sang-penopang. Seseorang yang menyiapkan jalan agar orang lain bisa mencapai apa yang tidak sempat kita capai.

Mungkin kita memang bukan orang yang bakal mencatatkan nama di sejarah atau mengubah dunia secara besar-besaran.

Tapi mungkin kita adalah orang yang akan membantu teman melewati masa sulitnya, menguatkan pasangan saat hilang arah, mendidik anak dengan penuh kasih, atau sekadar melakukan kebaikan-kebaikan kecil tanpa perlu kamera dan tepuk tangan dari sekitar kita.

Di cerita Frieren, jejak kebaikan kecil Himmel tetap hidup dan hangat di hati orang-orang yang pernah dia tolong, bahkan berpuluh-puluh tahun setelah dia meninggal.

Kita tidak perlu muluk-muluk membebankan diri untuk jadi sesuatu yang besar.

Cukup menjadi seseorang yang rela menolong hal-hal kecil dengan tulus, menciptakan karya-karya sederhana dan memberikan sesuatu yang mungkin terlihat kecil bagi kita, tetapi bisa berarti besar bagi orang lain.

Blog ini adalah sebuah cerita perjalanan abadi yang selalu ada sampai kapan pun. Dan jika suatu hari nanti saya sudah tidak ada lagi, semoga setiap baris kalimat di sini tetap mampu memeluk pembacanya dengan hangat dan lembut, membuktikan kalau "aku"-pernah Ada.

No comments

'
Theme images by suprun. Powered by Blogger.