Apakah Kita Hanyalah NPC di Cerita Orang Lain?

Setelah cukup terhanyut dengan cerita Dragon Quest III, saya melanjutkan perjalanan ke seri berikutnya, Dragon Quest IV, dengan ekspektasi sederhana, yakni kembali merasakan sensasi petualangan megah yang sama.

Namun ternyata saya salah, Dragon Quest IV tidak berminat mengulang formula yang sama. Bukanya menyajikan satu perjalanan panjang dari awal sampai akhir seperti pendahulunya, game ini memecah ceritanya jadi lima chapter berbeda.

Dan justru dari struktur yang terasa "baru" inilah, saya mulai merasa bahwa game ini sedang mencoba berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar perjalanan seorang pahlawan.

Di game-game JRPG pada umumnya, kita sudah terbiasa mengendalikan karakter Hero. Berjalan dari kota ke kota, mengobrol seperlunya dengan NPC untuk mencari petunjuk, serta membeli perlengkapan baru, lalu pergi begitu saja. 

Bagi kita, Non-Playable Character (NPC) cuma bagian dari dekorasi dunia tersebut, sekadar untuk membuat dunia tersebut terasa hidup. Tapi entah kenapa, Dragon Quest IV membuat saya melihatnya dari sudut yang berbeda.

Bagaimana kalau mereka bukan sekadar figuran? Bagaimana kalau setiap orang yang kita temui di kota itu juga punya kehidupannya sendiri. Meraka bangun pagi, berangkat kerja, ngobrol dengan orang lain, punya masalah, punya impian, lalu pulang dan tidur? Sama seperti kita.

Pertanyaan itu benar-benar menghantam saya saat memainkan salah satu karakter paling tidak biasa dalam game ini, karakter tersebut adalah seorang bapak-bapak yang berkerja sebagai penjual senjata. 

Saat memerankannya, saya bukan lagi sedang menyelamatkan dunia. Saya cuma menjalani rutinitas biasa, seperti bangun, beli barang, jual lagi, cari untung, lalu coba untuk mem esarkan usaha, ulangi lagi ke-esokan harinya. 

Sangat sederhana sekali. Tapi semakin lama saya mainkanya, semakin aneh rasanya, sampai muncul satu pikiran yang tidak bisa saya usir dalam pikiran ini. Apa jangan-jangan begini juga kehidupan semua NPC yang selama ini saya tinggalkan begitu saja.

Selama ini saya selalu merasa jadi pihak yang "mengendalikan", menentukan ke mana arah karakter berjalan, monster apa yang mereka lawan, kapan mereka istirahat, dan kapan lagi mereka lanjut jalan. 

Tapi untuk pertama kalinya, saya merasa melihat dunia dari sisi sebaliknya. Dunia yang ada dalam layar tabung televisi saya. 

Bagaimana jika saat kita meninggalkan kota, apakah para NPC di sana tidak benar-benar berhenti hidup? apa mungkin mereka pulang ke rumah?. Mungkin mereka lanjut bekerja. Apa mungkin mereka ngobrol dengan NPC lain, Apakah mereka punya tujuan yang tidak akan pernah kita ketahui?

Dan bukankah hidup kita juga seperti itu?

Kita sering merasa jadi pemeran utama dalam kehidupan kita sendiri. Padahal buat orang lain, kita mungkin cuma NPC yang muncul sebentar di salah satu chapter kehidupan mereka. 

Bertemu seseorang di persimpangan, ngobrol beberapa menit, lalu berpisah jalan. Bagi kita itu cuma percakapan biasa yang terlupa keesokan harinya. Tapi siapa tahu, bagi orang itu, pertemuan singkat itu justru jadi sesuatu yang mereka ingat sampai bertahun-tahun kemudian.

Karakter-karakter di Dragon Quest IV mengalami hal yang sama. Ragnar, Alena, Torneko, Meena, Maya, dan akhirnya sang Hero sendiri, semuanya awalnya menjalani cerita masing-masing, tanpa tahu bahwa jalan mereka perlahan diarahkan menuju satu titik yang sama oleh sang pencipta. 

Persis seperti manusia. Awalnya kita berjalan dengan tujuan masing-masing, mengejar pekerjaan, uang, keluarga, mimpi, atau sekadar mencoba melewati hari dengan baik. 

Kita tidak pernah tahu siapa yang akan kita temui sepanjang perjalanan, siapa yang akan kita tinggalkan, dan siapa yang hanya mampir sebentar. Sebab terkadang, seseorang yang hanya muncul dalam satu chapter kehidupan kita, justru menjadi bagian penting dalam cerita hidup mereka.

Mungkin itu sebabnya Dragon Quest IV terasa berbeda buat saya. Game ini bukan cuma cerita tentang seorang Hero yang menyelamatkan dunia. Ini cerita tentang bagaimana setiap orang punya kisahnya sendiri, bahkan saat kisah itu sedang tidak kita lihat. 

Dan mungkin, hidup ini sendiri sebenarnya seperti kisah video game yang sangat besar. Kita merasa sedang memainkan karakter utama, padahal di dalam cerita orang lain, boleh jadi kita hanyalah seorang NPC biasa.

Kesimpulannya, setelah memainkan Dragon Quest IV ini, saya teringat pada perjalanan hidup saya sendiri. Ketika akhirnya saya bertemu dengan istri tercinta, saya pernah berpikir, Oh… ternyata semua jalan yang selama ini saya tempuh, semua keputusan yang pernah saya ambil, bahkan setiap persimpangan yang dulu terasa tidak berarti, perlahan sedang membawa saya ke titik ini. 

Seperti kelima chapter dalam Dragon Quest IV yang pada awalnya berjalan sendiri-sendiri sebelum akhirnya bertemu dalam satu cerita, mungkin hidup pun demikian. 

Kita menjalani setiap chapter tanpa pernah tahu ke mana arahnya, sampai suatu hari kita bertemu seseorang, dan baru menyadari bahwa ternyata seluruh perjalanan itu sedang menuntun kita ke satu tujuan, yaitu menemukan seseorang yang ingin kita bahagiakan di sepanjang "sisa" perjalanan ini.

Ya, ini adalah Cerita untuk kamu..

No comments

'
Theme images by suprun. Powered by Blogger.