Kok Bisa, Game 513KB Terasa Lebih Besar dari Game 95GB?
Setelah menamatkan Dragon Quest III, saya cukup kaget melihat berapa lama waktu yang sudah saya habiskan. Tidak terasa, 30 jam berlalu begitu saja.
Tiga puluh jam. Itu durasi standar sebuah game AAA modern masa kini.
Namun ini bukan game modern, ini game berukuran 513KB, dimainkan di layar kecil, dengan grafis seadanya. Dan justru game sekecil itu yang berhasil menyentuh hati saya. Saya menamatkannya dengan perasaan puas yang sulit untuk dijelaskan.
Hebat developernya, mereka membuat sebuah karya yang entah bagaimana terasa seperti melihat ke masa depan, game mereka masih sangat relevan dimainkan setelah 38 tahun berlalu.
Bandingkan dengan pengalaman saya memainkan Final Fantasy XVI. Waktu yang dibutuhkan untuk menamatkannya kurang lebih sama. Grafisnya jelas megah, adegan cinematiknya juga mewah.
Tapi setelah kredit akhir muncul, hati saya terasa hampa. Kosong. Gitu aja.
Saya jadi berpikir ulang, kok bisa ya, file game berukuran 513KB mengalahkan game berukuran 95GB?
Jawabannya mungkin sederhana: "Ada ruang kosong yang diisi oleh pikiran kita sendiri"
Grafis Dragon Quest III yang sederhana justru memaksa otak saya untuk berkhayal, sebuah hal yang sudah tidak pernah saya lakukan dalam bermian game modern.
Ketika layar hanya menampilkan susunan kotak-kotak kecil berwarna biru bergerak di atas latar hijau, pikiran secara otomatis mengisi kekosongan itu. Ia mulai membayangkan seperti apa wajah sang pahlawan, seperti apa desa yang sedang dikunjungi, emosi apa yang tersembunyi di balik dialog singkat yang muncul di kotak teks.
Otak manusia memang senang mengisi celah-celah kosong seperti ini, coba menyusun makna dari petunjuk yang tidak lengkap.
Game Final Fantasy XVI tidak meninggalkan celah sedikit pun untuk hal ini. Semuanya sudah disajikan secara matang, wajah karakter sudah dirender detail, dunianya sudah lengkap sampai ke sudut terkecil, emosi sudah dianimasikan, suara sudah direkam oleh aktor profesional.
Dan di situlah masalahnya. Tidak ada lagi ruang bagi pikiran untuk ikut berkhayal.
Rasanya Saya hanya jadi penonton yang pasif, duduk diam menyaksikan sesuatu yang sudah selesai sepenuhnya, tanpa pernah diminta untuk ikut membangunnya.
Saya bersyukur bisa merasakan perasaan ini lagi. Sebuah rasa yang sudah lama hilang, yang sempat tergantikan oleh rasa hampa setiap kali menamatkan game-game modern yang katanya canggih, katanya megah, tapi tidak lagi memuaskan untuk di tamatkan.
Dari sini saya belajar satu hal, kebahagiaan itu ternyata bukan lahir dari apa yang disajikan kepada kita, melainkan dari apa yang kita bangun sendiri, di dalam pikiran kita.








Leave a Comment