Sang Penulis, Sang Pembaca, dan Takdir


Ladja merupakan karakter antagonis dari game Dragon Quest V, dia berusaha lari dari sebuah ramalan tentang kematiannya. 

Nah, bagian inilah yang bikin saya tertarik dengan takdir villain dari game ini.

Waktu Hero masih kecil, ia selalu membawa sebuah Glowing Orb, yakni sebuah benda yang kelak berhubungan dengan kekuatan untuk mengalahkan Ladja. 

Ladja lalu menghancurkan Orb itu tepat di depan mata si Hero kecil. Mungkin menurutnya, kalau salah satu bagian dari ramalan itu sudah hancur, maka jalan menuju kematiannya juga ikut terputus.

Namun ternyata ia keliru.

Orb yang Ladja hancurkan itu palsu, tiruan buatan Ratu Elf. Saat Hero dewasa, dia berhasil kembali ke masa lalu, kemudian si Hero dewasa menukar Orb asli dengan tiruan itu, jadi sebenarnya semuanya tetap berjalan sesuai jalurnya. 

Apa yang Ladja anggap sebagai usaha mengubah takdir ternyata tidak mengubah apa pun.

Dari situ saya merasa takdir di game ini tidak cuma "sudah diketahui", ia tetap berjalan, bahkan ketika ada yang coba mati-matian melawannya.

Kalau dipikir lebih jauh, ini mirip dengan posisi kita sebagai pemain. Sejak awal kita sudah tahu garis besar perjalanan Hero di game ini, kita mengendalikan dia dari waktu kecil, melewati masa-masa berat, tumbuh dewasa, berkeluarga, hingga menyaksikan dia kehilangan orang-orang yang dicintai. 

Bagi para karakter yang ada dalam game ini, masa depan itu gelap. Namun bagi kita, ia sudah tertulis. Kita tinggal menjalaninya menuju akhir yang sudah ditentukan oleh sang pembuat game.

Apakah begitulah gambaran sederhana tentang takdir?. Di dalam game, kode program adalah ramuan utama dimana dunia game itu tercipta. 

Developer tahu seluruh ceritanya, sedangkan karakter hanya menjalani peristiwa satu per satu tanpa pernah melihat kode yang mengatur dunia mereka.

Mungkin manusia merasakan hal yang mirip, seperti di dalam game. Kita tidak tahu isi halaman berikutnya, hanya bisa menjalani halaman yang terbuka di depan mata kita. Cerita utuhnya, dari awal sampai akhir, hanya Sang Pencipta yang tahu.

Takdir mirip juga seperti buku yang sudah selesai ditulis.

Sang penulis (pencipta) mengetahui halaman pertama hingga halaman terakhir, mengetahui siapa yang akan datang, siapa yang akan pergi, dan bagaimana kisah itu berakhir. 

Sementara sang pembaca hanya mampu membuka satu halaman demi satu halaman. Bagi pembaca, setiap peristiwa terasa seperti sesuatu yang baru dan belum diketahui, meskipun seluruh jalan cerita sebenarnya sudah ada di dalam buku.

Kita seakan-akan di buat memiliki pilihan, kehendak, dan tanggung jawab atas perbuatan kita sendiri, namu bisa saja sebenarnya apa pun yang kita pilih itu sebenarnya sudah tertulis dalam program takdir ini. 

Karakter Ladja ingin lari dari akhir yang tidak ia ketahui. Kita sebagai pemain sudah tahu akhirnya, tapi tetap harus memainkan seluruh perjalanan untuk sampai ke sana.

Mungkin di situlah letak misteri sebuah takdir, Sang Pencipta mengetahui keseluruhan cerita kita, sementara kita diberi kesempatan untuk menjalaninya.

No comments

'
Theme images by suprun. Powered by Blogger.