Cerita Tragis Ardyn Izunia Villain di Final Fantasy XV
Was I born to be betrayed? Was I born to simply die?
Must I live to sacrifice? Must I die to make things right?
Pertanyaan eksistensial ini juga terdapat pada sebuah kutipan dari William Shakespeare di trailer pertama dari game ini :
"There is nothing either good or bad, but thinking makes it so."
Kutipan ini bukan hanya sekadar pemanis dalam cerita game ini. Melainkan sebuah penggalan kisah tragis dari karakter villain Ardyn Lucis Caelum.
Kita akan disuguhkan sebuah dekonstruksi moral yang luar biasa tajam tentang konsep "Kebaikan vs. Kejahatan" yang selama ini diagungkan oleh sang-penulis takdir (God).
Ceritanya di ambil dari DLC Episode Ardyn (yg tdk ada dalam base game)
Lebih dari 2.000 tahun lalu, dunia EOS sedang sekarat akibat sebuah wabah yang di namakan Starscourge, dimana wabah tersbut mengubah manusia menjadi monster.
Dari kejadian ini, maka dua bersaudara bangkit dengan masing-masing kekuatan untuk menyelesaikan wabah ini:
Karakter Ardyn: Memilih jalan welas asih. Ia sedikit demi sedikit menyembuhkan manusia dengan cara menyerap penyakit ke dalam tubuhnya sendiri.
Ia menyelamatkan jutaan nyawa, namun pada akhirnya dia harus mengorbankan dirinya sendiri hingga akhirnya menjadi monster abadi yang tidak bisa mati.
Karakter Somnus: Memilih jalan yang dingin dan praktis. Menganggap cara Ardyn terlalu lambat, yang malah akan menimbulkan korban lebih banyak lagi.
Maka Somnus memutuskan untuk membumihanguskan siapa pun yang terjangkit wabah demi menghentikan penyebaran dengan cepat.
Somnus menggap mengorbankan sedikit, tidak apa-apa demi mendapatkan kebaikan yang lebih besar.
Dari sekenario di atas, muncul pertanyaan, siapa yang sebenarnya jahat? Ardyn yang kehilangan jiwanya demi menyelamatkan manusia, atau Somnus yang terpaksa membantai demi masa depan yang lebih besar.
Ironi kisah tersebut memuncak ketika Bahamut sang malaikat pelindung, menyeret Ardyn ke dalam Kristal. Bukannya diselamatkan, Ardyn justru diberi tahu bahwa takdirnya telah "di tulis".
Sebenarnya Ardyn adalah calon raja yang sah, namun dia di-khianati oleh saudaranya sendiri, kekasihnya juga di bunuh, dia di siksa 2000 tahun, kemudian dilupakan dalam sejarah.
Ia tidak diizinkan menjadi juru selamat. Sebaliknya, "takdir" memaksa Ardyn menjadi pembawa kegelapan (King of Darkness) agar dunia menderita, sehingga melahirkan "Raja Cahaya" (King of Light) / Noctis yang nantinya akan mengorbankan diri untuk membunuh Ardyn yang memiliki tubuh abadi.
Karakter Ardyn (villain) dan Noctis (Hero) hanyalah sebuah pion dalam permainan tragis para penulis takdir.
Baik Ardyn yang membawa kehancuran maupun Noctis yang membawa cahaya, keduanya dipaksa menjadi domba persembahan untuk memuaskan penontonnya.
Jika seluruh konflik yang ada dalam game ini, seperti; pengkhianatan, dan penderitaan umat manusia ini telah dirancang secara absolut oleh para penulis takdir, bukankah itu menjadikan "penulis-takdir" sebagai antagonis yang sesungguhnya?
Kebanyakan orang menganggap kisah Final Fantasy XV terlihat seperti perjalanan fantasi heroik sederhana tentang cahaya melawan kegelapan, namun sebenarnya game ini menyimpan pertanyaan eksistensial yang begitu dalam.
Kebanyakan gamer kecewa, karena hanya memaikan versi awal yang belum lengkap, mereka hanya memainkan dari satu sudut pandang saja.
Karena setiap koin memiliki dua sisi yang berbeda,
Saat kita memainkan karakter Noctis boss terakhirnya adalah Ardyn.
Saat memainkan karakter Ardyn maka boss terakhirnya adalah Noctis.
Maka semua kembali ke awal, saat kita melihat kedua belah sisinya, maka jahat dan baik itu menjadi terlihat kabur.
Cerita Final Fantasy XV adalah tragedi tentang hilangnya kehendak bebas (free will) di hadapan tangan dingin penulis takdir yang kejam.
*Spoiler
True endingnya sebenarnya, Noctic, Luna dan Ardyn bergabung membunuh si penulis Takdir (God).











Leave a Comment