Movie Review : Masters of the Universe (2026)

Masters of the Universe (2026) merupakan sebuah franchise film jadul, dimana satu-satunya hal yang paling melekat di ingatan saya se-sewaktu kecil adalah karakter He-Man

Ada sedikit kenangan manis saat kartun ini dulu tayang di TVRI, setelah dewasa lalu menonton versi layar lebarnya, jelas ini membawa kembali percikan nostalgia yang membawa saya kembali ke masa kecil.

Ada hal unik dimana lagu ost "Queen - Princes of the Universe", yang seharunya menjadi ost dari film Highlander, malah di gunakan dalam film ini, kerana memang judulnya mirip.

Di balik megahnya dunia fantasi yang sedang coba di bangun (Eternia), cerita film ini sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan kita sehari hari, yakni tema bullying serta dinamika hubungan antara orang tua dan anak. 

Ada detail menarik lewat adegan close-up penyihir Evil-Lyn, ekspresi wajahnya tampak begitu muak melihat kelakuan Skeletor yang semena-mena dan terus menindasnya. Sampe-sampe musuh-nya pun di bully oleh boss musuh, menunjukkan bullying bukan hanya ada di sisi karakter utama. 

Saya juga melihat potret tentang kesalahpahaman yang sering terjadi ketika orang tua memaksakan ekspektasinya dan ingin anaknya menjadi sosok orang lain, tanpa menyadari bahwa "kekuatan sejati" sebenarnya sudah ada di dalam diri anak itu sendiri.

Film ini masih setia dengan formula khas pahlawan barat, dimana karakter utamanya mendapatkan kekuatan secara instan, tipikal superhero seperti Spider Man, Iron Man, atau Superman 

Pendekatan ini sangat kontras dengan pahlawan adaptasi Asia seperti Goku, Saitama atau Naruto, yang jalannya selalu berliku dan membutuhkan latihan serta kerja keras untuk menjadi kuat.

Satu hal yang cukup mengejutkan adalah hadirnya pesan anti-patriarki yang diselipkan secara halus namun cukup menggelitik (mirip film Barbie). Hal ini terlihat dari karakter utama yang mengenakan pakaian berwarna pink dan tidak ragu berteriak histeris layaknya perempuan (kalau tidak salah ingat). 

Bahkan sosok antagonis di film ini sebenarnya bertindak sebagai cerminan dari sang protagonis. Dia kemungkinan besar adalah produk dari masa lalu yang sama-sama tertindas. 

Motifnya ingin menjadi raja dan haus kekuasaan lahir karena dia merasa tidak disukai, yang akhirnya mendorong dia mengejar kekuatan dengan cara yang sama seperti si karakter utama. 

Overall film ini terhitung cukup menghibur. Dengan tone cerita dan eksekusi humor yang terasa mirip dengan Thor: Ragnarok, film ini berhasil menyeimbangkan antara nostalgia masa lalu dan hiburan modern yang seru untuk dinikmati oleh seluruh anggota keluarga.

SCORE : 7/10

No comments

'
Theme images by suprun. Powered by Blogger.