Apa itu Sebenarnya Dewa Perang?
Di trailer God of War: Laufey kita menyaksikan 2 sosok dewa perang dari 2 kebudayaan yang berbeda. Link : https://youtu.be/HLMX2w3cwuE?si=zlTYK507BBZs2hX4&t=584
- Sekhmet : Dewi perang berkepala singa dari bangsa Mesir.
- Begtse : Dewa perang ber kulit merah dari bangsa Mongol.Lalu muncul sebuah pertanyaan dari pikiran saya, "kenapa ya, setiap kebudayaan besar itu selalu memiliki sosok dewa perangnya masing-masing?"
Padahal kebudayaan mereka terpisah ribuan kilo meter, namun mereka semua menciptakan, sosok figur yang sama.
Walau berbeda-beda bahasa, kebudayaan, ternyata kita manusia menciptakan sosok ini untuk tujuan yang sama (universal).
Tujuan itu adalah untuk membuat batas yang jelas antara "diri" dan "luar".
Batasan antara mana "kelompok" dan mana "musuh".Konsep dewa perang dibutuhkan untuk membenarkan peperangan. Mengakiri banyak nyawa musuh tanpa ada rasa bersalah terhada diri sendiri.
Dewa perang hanyalah Simbol "Pembenaran" untuk kekerasan yang terorganisir.
Membunuh itu sangat berat secara psikologis. Dewa perang berfungsi seperti tombol on-off moral manusia.
Jaman dulu : "Saya tidak membunuh karena benci, saya tidak kenal siapa yang saya bunuh, tapi karena dewa perang memerintahkan saya untuk melindungi kelompok/agama, maka saya terpaksa melakukannya" Ini membuat manusia tega bertindak kejam.
Dalam sebuah peperang pasti akan banyak yang mati, maka dewa perang akan menjanjikan "surga bagi prajurit yang gugur" (Valhalla) atau "reinkarnasi lebih baik" (Hindu). Ini bertindak seperti "plasebo" psikologis agar prajurit tidak takut mati.
Dalam Perang Salib pra moderen, gereja menjanjikan pengampunan dosa secara penuh bagi prajurit yang gugur, di sisi lain prajurit Islam yang gugur di medan perang juga dijanjikan pengampunan dosa seketika, terbebas dari siksa kubur, dan dijamin masuk surga.
Dewa perang adalah rekayasa budaya agar manusia rela membunuh dan mati demi kelompoknya. Binatang cerdas seperti lumba-lumba, primata atau gajah mungkin punya konflik teritorial, tapi mereka tidak menciptakan "dewa perang", itu karena mereka tidak perlu membenarkan kekerasannya dengan "CERITA". Hanya manusia yang melakukan itu.
Hingga sekarang, di dunia yang kita anggap modern ini, dewa perang pun sebenarnya masih ada. Dia tidak pernah mati, dia hanya berganti nama, berganti topeng, dan belajar berbicara dalam bentuk yang lebih halus.
Dewa perang modern manusia adalah personifikasi abstrak dari Negara itu sendiri, yang kemudian diwujudkan dalam simbol, ritual, dan narasi cerita.
Pembenaran perang sekarang ini mengatas namakan "Negara". Dan ketika seorang pemuda mengenakan seragam lalu terbang ke negeri orang untuk menembak dan ditembak, dia tidak lagi berbisik, "Ares, lindungilah aku." Dia akan berbisik, "Untuk tanah air Ku."








Leave a Comment