Mengupas Lebih Dalam Tokoh Dewa Odin di God Of War Ragnarök
Dalam cerita fiksi fantasi, motivasi villain sering kali terlihat sederhana, apa lagi kalau bukan "kekuasaan". Mulai dari Emperor Palpatine di Star Wars hingga Sephiroth dalam Final Fantasy VII, mereka semua mengejar kontrol absolut atas dunia dan isinya.
Awalnya saya mengira tokoh Dewa Odin dalam God of War Ragnarök ini memiliki motivasi yang serupa, namun ternyata saya salah. Motivasi Odin tidaklah didorong oleh kekuatan, perang, tahta, atau bahkan kekayaan.
Odin mengejar kontrol melalui "pengetahuan". Ia tidak ingin menguasai dunia dengan pedang atau kekerasan, melainkan dengan pengetahuan.
Dan justru di sanalah ia menjadi villain yang menurut saya paling manusiawi, dan juga menjadi yang paling tragis. Karena Odin adalah gambaran dari ketakutan paling awal dari umat manusia (Primordial fear).
BAB I :Pengetahuan Menjadi Bentuk Ketakutan Tertua Manusia.
Odin tidak percaya pada makna kehidupan yang biasa diberikan para dewa kepada manusia. Ia tahu makna yang diberikan pada manusia sering kali hanyalah kebohongan yang sifatnya hanya untuk menenangkan.
Saat manusia bertanaya kepada dewa-dewa, "Kemana mereka pergi setelah meninggal?", maka dewa dengan enteng menjawab, "Setelah manusia meninggal mereka akan masuk ke Vallhala (surga) atau Helheim/Hel (neraka)".
Jawaban itu hanyalah penenang bagi para manusia, karena dewa-dewa pun sebenarnya tidak tau apa jawabannya, mereka tidak tau apa yang akan terjadi pada manusia/dewa setelah mereka meninggal.
Ketidak tahuan ini lah yang membuat Odin cemas; para dewa itu sendiri pun hidup tanpa ada makna. Odin dihantui pertanyaan yang sama dengan manusia, "Mengapa kita ada, dan ke mana kita pergi setelah mati".
Odin : "I don't know where do I go when I go."
Namun secercah harapan mulai timbul saat Odin melihat sebuah celah kosmik, sebuah rift yang menjanjikan semua jawaban mutlak tentang realitas yang ada. Sejak saat itu pula hidupnya tidak lagi tentang menguasai Nine Realms, melainkan tentang memahami takdirnya sendiri.
Ia ingin tahu apa yang menantinya setelah kematian, karena dengan mengetahui itu, ia merasa bisa memiliki kontrol akan takdirnya. Sejak awal Odin memiliki obesesi ingin memiliki kontrol penuh akan segala sesuatu.
Obsesi Odin terhadap pengetahuan mencerminkan sejarah manusia itu sendiri. Seperti saat masyarakat purba yang malah membangun observatorium dari tumpukan batu, bukan untuk mendapatkan kebutuhan mendesek seperti; makanan, air, atau perlindungan, akan tetapi mereka malah memilih untuk membaca pergerakan bintang dan planet.
Manusia purba tidak memiliki kontrol, mereka tidak bisa menghentikan kelaparan, penyakit, bencana alam, atau bahkan kematian, namun dengan kemampuan memprediksi pergerakan bintang dan planet di langit, mereka seakan merasakan memiliki "ilusi" untuk mengontrol pergerakan semesta.
Odin pun melakukan hal yang sama, hanya dalam sekala dewa. Ia percaya, jika ia tahu segalanya, maka ia bisa mengendalikan segalanya, bahkan hingga "kematian" itu sendiri.
Padahal, sama seperti observatorium purba tadi, pengetahuan itu tidak pernah benar-benar memberi kendali, pengetahuan hanya memberikan rasa aman palsu, sebuah ilusi kalau kita memegang kendali.
Saat kita tahu teori, data, atau skenario, otak merasa: “Saya mengerti, berarti saya siap.” Padahal realitas tetap penuh variabel yang tak bisa dikendalikan. Inilah yang disebut dalam psikologi sebagai illusion of control, rasa aman karena memahami peta, padahal kita tidak menguasai cuaca.
BAB II: Dewa Odin The Master of Manipulator
Yang menurut saya sangat menarik dari tokoh Odin adalah, dia sangat ahli me-manipulasi, dan itu adalah senjata utamanya. Ia memadukan kejujuran dan kebohongan, humor dan ancaman, pujian dan hinaan dalam satu tarikan napas. Hal ini akan kita lihat sepanjang game ini, betapa lihainya dia memanipulasi lawan, teman, dan bahkan keluarganya sendiri.
Yang sangat menarik menurut saya, dalam memanipulasi Odin tidak selalu berkata bohong; justru ia sering berkata jujur, karena manipulasi paling efektif itu adalah yang berakar pada kebenaran. Kepada Atreus, ia tampil sebagai sosok ramah, terbuka, dan penuh jawaban, membuat siapa pun bertanya-tanya: bagaimana jika ia benar? Saya pun sebagai pemain sempat mempertanyakan hal ini.
Namun manipulasi Odin tidak selalu berhasil, ada kalanya dia gagal, namun ketika teknik manipulasinya gagal, Odin akan beralih ke penyiksaan.
Tokoh Týr (sang dewa perang) dan Mimir adalah bukti bahwa siapa pun yang tidak bisa tunduk, maka mereka akan di asingkan. Odin tidak langsung membunuh mereka berdua, hanya menyiksa dan memenjarakan mereka karena Odin merasa mereka suatu saat masih akan di butuhkan.
Para Giant pun sama. Mereka terlalu bijaksana untuk dimanipulasi, terlalu bermoral untuk ditundukkan, maka mereka dimusnahkan hingga ke akar.
Namun karakter Thor adalah contoh paling menyedihkan menurut saya, dia bukan hanya dimanipulasi, melainkan dihancurkan secara mental dan emosional. Odin tidak menganggap Thor sebagai anaknya, tetapi hanya sebagai alat penghancur. Makanya Thor mabuk-mabukan dan sudah tidak mau berfikir lagi, yang dia tahu hanya menjalankan perintah Odin, dan dia tidak peduli perintah itu baik atau buruk.
BAB III: Sebuah awal dari kehancuran Odin.
Namun segala rencana Odin mulai runtuh ketika tokoh Kratos hadir. Kratos adalah anomali dalam skema sempurna yang sudah di susun oleh Odin, seseorang yang sama sekali tidak bisa dimanipulasi, tidak bisa ditaku-takuti, dan punya kekuatan untuk membunuh Dewa.
Seluruh retorika Odin, mulai dari kalimat humor hingga ancaman halus, hancur hanya oleh satu kata sederhana dari Kratos: “No”. Pada momen ini untuk pertama kalinya, Odin kehilangan kendali.
Ada juga sebuah momen ketika Odin menyamar sebagai Týr, dia mencoba manipulasi Atreus dan Kratos dengan mendorong ide kebajikan, perdamaian, dan anti kekerasan, namun semua itu tetap bermuara pada kepentingannya sendiri.
BAB IV: Kehancuran dari Odin
Kejatuhan Odin akhirnya bukan disebabkan oleh takdir atau nubuat seperti yang sudah dia ketahui lewat ramalan Ragnarök. Ia malah runtuh oleh kesalahannya sendiri.
"Sosok yang hidup demi kontrol justru hancur karena kehilangan kontrol."
Karena lepas kontrol oleh ledakan ego, Odin di luar rencana malah membunuh karakter Brok, padahal dengan membunuh Brok itu tidak membawa keuntungan apa pun bagi Odin.
Itu hanya amarah sesaat, momen ketika Odin gagal mengendalikan dirinya sendiri, sebuah ironi yang sempurna. Di akhir game ini jika Brok tidak mati, Odin akan dibiarkan hidup oleh Kratos dan Atreus. Namun satu tindakan impulsif malah mengunci nasibnya sendiri.
BAB V :Epilog
God of War Ragnarök menegaskan satu kebenaran sederhana namun terdengar menyakitkan; Manusia, bahkan dewa-dewa pun, tidak pernah benar-benar memegang kendali atas hidup. Kita tidak bisa mengontrol masa depan, takdir, atau kematian. Namun kita selalu bisa mengontrol satu hal, yaitu "pilihan kita".
Kratos dan Atreus selamat bukan karena ramalan Ragnarök berubah, melainkan karena mereka memilih untuk menjadi lebih baik. Odin hancur bukan karena ramalan, melainkan karena ia memilih menjadi versi terburuk dari dirinya sendiri.
Dan di sanalah tragedi dalam cerita game ini berakhir, bukan di tangan takdir ramalan, tetapi di tangan pilihan.














Leave a Comment